Profile

Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah di tahun tujuhpuluhan, semua industri sejenis diharuskan membentuk wadah tunggal. Karena kosmetik berada dibawah naungan Departemen Kesehatan maka dengan S.K. Menkes Tahun 1978 didirikan Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia, disingkatkan menjadi PERKOSMI oleh beberapa tokoh di bidang industri kosmetik. Pada awalnya perusahaan ini dipimpin oleh Drs. Islam, Ibu Martha Tilaar sebagai ketua dan wakil ketua dan Drs. Jos Hudoyono selaku Sekjen. Dalam tahun 1978-1984 belum banyak yang dapat dikerjakan. Namun pada tahun 1984 ketika dikeluarkan peraturan larangan import kosmetik luar negeri baru PERKOSMI berperan dan mendapat perhatian dari anggota-anggotanya. Pada penyelengaraan MUNAS pertama di Jakarta pada tahun 1984, terpilih sebagai Ketua Umum Drs. Sudirman dan wakil-wakil ketua Drs. Ferdinandus dan Ibu Mooryati Sudibyo. Hanya tak berapa lama kemudian Drs. Sudirman dan Drs. Ferdinandus meninggal dunia dan kepemimpinan PERKOSMI diteruskan oleh Ibu Mooryati Sudibyo.

Selanjutnya pada Munas ke II yang berlangsung pada tahun 1989 di Surabaya, Ibu Mooryati Sudibyo terpilih sebagai Ketua Umum dengan didampingi Helmi Attamimi, MBA,  selaku Sekjen. Dalam periode ini mulai berjalan kerjasama yang erat dengan Dirjen POM dalam menghadapai penyusunan Undang-Undang Kesehatan. Ibu Moryati Sudibyo terplih kembali dalam MUNAS ke III di Semarang 1922 dan di Jakarta dalam Munas ke IV di tahun 1996 sampai dengan tahun 2000. Dalam periode ini PERKOSMI makin dikenal baik didalam maupun di luar negeri. Pada tahun 1993 bersama-sama organisasi kosmetik dari negara-negara ASEAN : Phillipina, Malaysia, Singapore, dan Thailand terbentuk ASEAN Cosmetic Association dimana Ibu Moryati Sudibyo terpilih sebagai Presidennya yang pertama dan terpilih untuk kedua kalinya di Kuala lumpur pada tahun berikutnya.

Memasuki millennium ke III, PERKOSMI pun mengalami reformasi dimana dalam Munas V di Jakarta pada tahun 2000 Ir. Tonny Pranatadjaja terpilih sebagai Ketua Umum(2002 – 2006) dan Aswin Aditiawan, SH  selaku Sekjen. Sesuai dengan perkembangan global banyak hal telah dilakukan demi nama dan kemajuan PEKOSMI. Kerjasama dengan Badan POM sangat bermangfaat bagi anggota karena PERKOSMI diberi kesempatan berperan dalam penyusunan peraturan-peraturan mengenai kosmetik melalui Tim 7, yaitu tim yang terdiri atas pakar-pakar kosmetik anggota PERKOSMI. Juga telah berhasil menghapuskan pajak PPN Barang Mewah yang sangat memberatkan anggota maupun konsumen.

Namun yang juga tak kalah penting peran Ketua umum PERKOSMI selaku Presiden Asean Cosmetic Association (ACA) khususnya memperjuangkan agar industri UKM didalam negeri agar tetap mampu untuk berkiprah baik didalam negeri maupun diluar negeri dengan mengusahakan agar para industri UKM mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan diri khususnya dalam menerapkan Good Manufacturing Practices di perusahaannya. Perjuangan yang panjang dan akhurnya di Tahun 2003 telah berhasil disepakati Asean Cosmetics Directives yang intinya untuk memajukan industri. Maka tak mengherankan apabila pada Munas ke VI yang baru-baru ini diselenggarakan dalam Januari 2006, Ir. Tonny Prantadjaja terpilih kembali sebagai ketua umum PERKOSMI untuk Periode 2006 – 2010.

Pada MUNAS ke VII yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2010 terpilihlah Ibu Dra. Nuning S.Barwa,Apt. MBA sebagai Ketua Umum PERKOSMI Pusat dengan masa jabatan 2010 – 2014.

Visi

Menjadi wadah Perusahaan Kosmetika untuk mendukung pengembangan Bisnis Kosmetika di Indonesia.

Misi

  1. Menyatukan para pakar dalam bidang Perdagangan & Industri Kosmetika dalam menilai dan mengambil langkah-langkah yang berhubungan dengan IPTEK, Ekonomi, Keuangan, Perlindungan Konsumen dan Lingkungan Hidup.
  2. Menjadi Mitra Pemerintah dalam persiapan dan penerapan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan Bisnis Kosmetika.
  3. Membantu Anggota Assosiasi agar dapat mengerti, dan mampu mempersiapkan dan mematuhi peraturan yang berlaku di bidang kosmetika khususnya kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM).
  4. Mewakili suara Perusahaan Kosmetika di Indonesia khususnya dalam menghadapi Harmonisasi Peraturan Kosmetika di ASEAN ataupun dalam berhubungan dengan Organisasi Regional/Internasional Kosmetika lainnya seperti Asean Cosmetic Committee (ACC), Asean Cosmetic Scientific Body (ACSB) dan Asean Cosmetic Association (ACA) dan Assosiasi Industri Bisnis lainnya di Indonesia.
  5. Membina kemuampuan industri lokal khususnya UKM dan meningkatkan Perdagangan Regional ataupun Global dalam Penerapan Harmonisasi Peraturan dan Menghilangkan hambatan-hambatan teknis dalam rangka pasar bebas.

Leave a Reply